Blogs Ads

Saturday, 22 October 2011

Peranan Ahlul Bait di alam nusantara


Dalam pelajaran sejarah Indonesia, sering kita dengar bahwa salah satu kelompok yang banyak mendakwahkan Islam di Nusantara adalah wali songo. Namun jarang kita dengar bahwa sebagian walisongo itu adalah keturunan ahlul bait.

Berikut ini beberapa orang walisongo yang termasuk dalam ahlul bait.
  • Maulana Malik Ibrahim
  • Maulana Rahmatullah (Sunan Ampel
  • Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang)
  • Maulana Syarifuddin Hasyim (Sunan Drajat)
  • Raden Paku (Sunan Giri)
  • Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
Sebagai contoh, silsilah dari Maulana Malik Ibrahim adalah sebagai berikut:

Maulana Malik Ibrahim ibnu Barokat Zainul-Alam ibni Jamaluddin Al-Hussein (Sayyid Hussein Jamadil Kubra) ibni Ahmad Syah Jalal ibnui Abdullah ibnu Abdul Malik ibnu Alawi Amal Al Faqih ibni Muhammad Shahib Mirbath ibni Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirulah ibnu Isa Al Rumi ibni Muhammad Naqib ibnu Ali al Uraidhi ibni Jaafar Sadiq ibni Muhammad Al Baqir ibni ALi Zainal Abidin ibni Al Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW

Selain sebagai walisongo yang menyebarkan agama Islam, peranan ahlul bait adalah di pemerintahan kesultanan.

Berikut ini adalah kesultanan Islam Indonesia yang pernah berada di tangan ahlul-bait Rasulullah SAW:
  • Kesultanan Aceh
  • Kesultanan Deli
  • kesultanan Palembang
  • Kesultanan Bintoro Demak
  • Kesultanan Cirebon
  • Kesultanan Banten
  • Kesultanan Pontianak
  • Kesultanan Ternate
  • Sunan Pakubuwono di Surakarta

Peranan ahlul bait di kesultanan Filipina:
  • Kesultanan Sulu (sekarang di Filipina)
  • Kesultanan Mindanao/Maguindanao
Peranan ahlul bait di kesultanan Melayu:
  • Kesultanan Brunei
  • Raja-raja Perlis (semenanjung Malaysia)
  • Raja Kelantan, Patani dan Champa
  • Negeri Sembilan
  • Kesultanan Johor-Pahang
  • Kesultanan Terengganu
  • Raja-raja Riau
  • Kesultanan Selangor
  • Kesultanan Perak
  • Kesultanan Kedah
Kalau kita perhatikan, sebenarnya banyak ahlul bait yang ada di nusantara, baik sebagai ulama seperti walisongo, sebagai penguasa kesultanan, maupun sebagai orang biasa.

Banyaknya keturunan Rasulullah SAW di daerah nusantara ini sejalan dengan hadis berikut:
Kami ahlul bait telah Allah SWT pilih untuk kami akhirat lebih dari dunia. Kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran sepeninggalanku kelak sehingga datangnya suatu kaum dari sebelah timur yang membawa bersama mereka panji-panji hitam ….“.

Dari hadis ini, ada kesempatan bagi kawasan Melayu ini sebagai awal kebangkitan Islam kedua, di tengah keadaan dunia yang sudah sangat rusak hari ini. Adanya ahlul bait yang berperan di nusantara nampaknya bukanlah sesuatu yang kebetulan.

Mohon di perbetulkan jika terdapat kesilapan dalam tulisan mahupun penyampaian.

Friday, 21 October 2011

Mengapa harus mencintai Ahlul bait Nabi saw?



Ahlul bait Nabi saw, artinya keluarga istimewa Rasulullah saw. Berbicara keluarga, seperti umumnya keluarga kita, ada yang hanya sebatas biologis minus ideologis, ada yang secara biologis plus ideologis.

 Ini umumnya keluarga kita. Dalam dataran ini juga terjadi dalam keluarga Rasulullah saw, yang hanya sebatas biologis misalnya Abu Jahal dan Abu Lahab.

Yang secara biologis dan ideologis misalnya paman Nabi saw dan keluarganya yang seiman: Abbas, ibnu Abbas, Hamzah, puteri Rasulullah saw selain Fatimah Az-Zahra’ (sa).

Ada model keluarga yang ketiga, yang hanya terdapat dalam keluarga Rasulullah saw yaitu keluarga istiwewa.Yang mengistimewakan mereka adalah Allah dan Rasul-Nya.

Bukan kerana pilih-kasih Rasulullah saw terhadap keluarganya, tapi semata-mata karena kehendak Allah swt. Dan memang dalam menentukan sikap Rasulullah saw tidak pernah berdasarkan hawa nafsu tapi semata-mata karena kehendak Allah swt:

“Dia (Rasulullah) tidak pernah berbicara berdasarkan hawa nafsu, tetapi ia semata-mata berdasarkan wahyu diwahyukan kepadanya.” (An-Najm: 3-4)

Keluarga Rasulullah saw yang istimewa inilah yang disebut dengan istilah keluarga nubuwwah, keluarga kenabian. Mereka ini hanya lima orang: Rasulullah saw itu sendiri, Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan dan Husein. 

Lima orang inilah yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai “Ahlul bait”, orang-orang yang disucikan oleh Allah swt dari salah dan dosa.

Allah swt menyatakan dalam firman-Nya:
“Sungguh tiada lain Allah berkehendak menjaga kamu dari dosa-dosa hai Ahlul bait dan mensucikan kamu dengan sesuci-sucinya.” (Al-Ahzab/33: 33)

Untuk mengetahui lebih detail penjelasan Rasulullah saw dalam hadis-hadisnya tentang siapa yang dimaksud “Ahlul bait” dalam ayat ini dan Asbabun nuzulnya.

Perbedaan Timbal-balik dakwah para Nabi (as)
Dalam hal timbal-balik dakwah para Nabi (as) dari umatnya ada perbedaan.

Tentang upah dakwah para nabi Allah swt menyatakan:
(ia berkata): “Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) dalam dakwahku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui.” (Hud: 29)

Katakanlah: “Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Saba’: 47)

Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.”
(Al-Furqan: 57)          

Adapun upah dakwah Rasulullah saw Allah swt menegaskan dalam firman-Nya:
Katakan (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah apapun kepada kalian dalam dakwah ini kecuali kecintaan kepada keluargaku.” (Surat Asy-Syura: 23)

Dalam ayat ini Allah swt menegaskan bahwa upah yang harus berikan oleh umat Rasulullah saw kepada beliau dalam dakwahnya adalah kecintaan kepada “Keluarga Istimewa” beliau yang dalam surat Al-Ahzab: 33 sebagai “Ahlul bait”.

Tapi sangat disayangkan dalam terjemahan-terjemahan Al-Qur’an yang beredar di Indonesia, kata “Mawaddah fil Qurbâ” dalam ayat tersebut diterjemahkan: kasih sayang kekeluargaan.

Terjemahkan ini jelas mengaburkan makna yang sebenarnya, makna yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw, dan dikutip oleh para ahli tafsir dan hadis.

Jadi, mencintai Ahlul bait Nabi saw adalah perintah Allah swt. Tentu di sini ada maksud dan tujuannya yang sangat penting. Kecintaan kepada Ahlul bait Nabi saw dikaitkan secara langsung dengan misi dan dakwah Nabi saw.

Cinta, mengikuti dan menteladani punya kaitan yang tak dapat pisahkan. Orang yang mengikuti tanpa cinta yang sejati, namanya ikut-ikutan yang tak bermakna dalam kehidupan beragama.

Seperti buih di atas lautan, bergantung arah angin.Cinta tanpa mengikuti dan menteladani, itu namanya cinta palsu.

Cinta kepada Ahlul bait Nabi saw juga dimaksudkan agar umatnya, pasca Rasulullah saw, merujuk kepada mereka dalam hal-hal keilmuan, supaya kita tidak bingung, ragu-ragu dan tersesat dalam beragama.
Dalam keberagamaan khususnya dalam hal-hal yang penting dan prinsip tidak boleh merujuk pada sembarang rujukan.

Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka yang berharga: Al-Qur’an dan ‘Itrahku, Ahlul baitku.” (Shahih At-Tirmidzi 2: 219).

Allah swt mengisyaratkan orang-orang yang mengambil ilmu bukan dari pintu:
 “Bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya.” (Al-Baqarah: 189)

Ayat ini sangat berkait dengan sabda Rasulullah saw:
“Aku kota ilmu dan Ali adalah pintunya, barangsiapa yang ingin memasuki kota ilmu maka datanglah pada pintunya.” (Mustadrak Al-Hakim 3: 126)

“Barangsiapa yang menghendaki ilmu maka datanglah pada pintunya. Barangsiapa yang datang tidak melalui pintunya maka ia tergolong pencuri dan menjadi bagian dari pasukan iblis.” (Ash-Shawa’iqul Muhriqah, Ibnu Hajar: 183)



Keturunan Syed Hussin Jamadul-Kubra di nusantara


Rujuk carta alir di bawah,SILA KLIK UNTUK RAJAH
Keturunan Syed Hussin Jamadul-Kubra
Keturunan Syed Hussin Jamadul-Kubra

Lampiran:

Sayyid Hussin Jamadul-Kubra (Sayyid Ratna-wangsa) (tiba Di Kelantan C.1349)
1 Maulana Malik Ibrahim (Meninggal Dunia Di Jawa Timur Tahun 1419, Salah Seorang Dari Wali Songo)
2 Maulana Ibrahim (Ibrahim Asmara)
2.1 Maulana Ishak
2.1.1 Muhammad Ainul-Yakin (Sunan Giri; Salah Seorang Dari Wali Songo)
2.2 Maulana Rahmatullah (Sunan Ampel; Salah Seorang Dari Wali Songo)
3 Ali Nurul Alam (Pateh Aria Gajah Mada; Perdana Menteri Majapahit Di Kelantan C.1432-c.1467)
3.1 Alimuddin (Wan Demali) (Pateh Karmawijaya) (Laksamana Bentan) (Pateh Majapahit) Nenek Moyang Sebahagian Dari “Kaum Wan” Di Patani, Kelantan, Terengganu Dll.
3.2 Abu Abdullah (Wan Bo) (Sultan Abu Abdullah) (Bo Tri Tri) Raja Champa (c.1471-c.147
3.2.1 Ahmad Fatahillah (Pelatehan) (Syarif Hidayatullah; Salah Seorang Dari Wali Songo)
3.2.2 Abul-Muzaffar Waliyullah (Wan Abul-Muzaffar) Yang Mula-mula Memberikan Gelaran “Nik” Kepada Keturunannya
Nik Jamaluddin (Datu Kelantan Bagi Pihak Kerajaan Pusat Pattani)
Nik Mustafa (Ong Tpouo) (Agong Ronan) (Po Rome) (Sultan Abdul Hamid Syah) Raja Sri Sarwasadesa. Raja Champa
3.3 Hussin (Wan Hussin) (Sri Amar-wangsa) (Pateh Majapahit) (Tuk Masjid) Nenek Moyang Sebahagian Dari “Kaum Wan” Di Patani, Kelantan, Terengganu Dll
4 Syarif Muhammad Kebungsuan (Prabhu Anom/Udaya Ningrat/Bhra Wijaya) Nenek Moyang Raja-raja Demak, Pajang Dan Mataram Di Pulau Jawa

Rujukan:
1. Ahlul-Bait (Keluarga) Rasulullah s.a.w dan Raja-Raja Melayu, Hj Muzaffar Dato’ Hj Mohamad, (Tun) Suzana (Tun) Hj Othman.
2. Keturunan Raja-Raja Kelantan dan Peristiwa-Peristiwa Bersejarah, Abdullah bin Mohamed (Nakula)
3. Salasilah Long Ahmad Dakin dan Wan Patan diusahakan oleh Wan Azman Wan Ahmad, didapati daripada Haji Alauddin b. Ishak.

Mengenai gelaran Syed / Syarif / Habib


Perkataan As-Sayyid ( Syed ) ini membawa maksud “ketua” atau “pemimpin”.
Dalam Sahih Bukhari, Rasulullah s.a.w pernah bersabda mengenai Al-Hassan:

“Sungguhlah bahawa puteraku ini (sambil merujuk kepada Hassan r.a) adalah Sayyid. Mudah-mudahan melaluinya Allah akan mendamaikan (pertikaian) antara dua golongan besar dari kaum Muslimin.”

Sayyid juga dari perspektif yang lain membawa maksud “Ketua Suku” atau orang bangsawan.
 Istilah “Syarif“, juga maksudnya sama dengan istilah Sayyid.

Menurut kajian Hj Muzaffar dan Tun Suzana, gelaran Syarif ini dipakai untuk Bani Hasyim di awal permulaan Islam sebagai nama sebutan atau predikat bagi mereka.

Orang pertama dari Bani Hasyim yang memakai gelaran “Syarif” ialah Syarif Ar-Radhiy dan saudaranya Al-Murtadho.

Di Hijaz, sebutan Syarif” tidak digunakan kecuali untuk para penguasa Mekah dari keturunan Al-Hassan. 

Hasil kajian ini juga mendapati, menurut adat dan kebiasaan umat Islam, predikat “Sayyid” diberikan kepada ahlul-bait dari keturunan Al-Hussein sementara “Syarif” dari keturunan Al-Hassan.

Keturunan Sayyid dari Hadhramaut pula dikenali dengan gelaran Habib, yang bererti orang yang dikasihi


Wallaualam bisawwab....mohon di perbetul jika tersilap.

Gelaran dan nasab mengikut Mazhab Hanafi,Ahmad dan Syafie


Ayah (Syed) maka anak = Syed dan Sharifah
Ibu (Sharifah) maka anak = Terputus nasab, anak tidak dinamakan dengan Syed

Pendapat di atas diterima mengikut Mazhab Hanafi.

Mazhab Hanafi mengatakan “terputuslah nasab keluarga Rasulullah s.a.w pada anak-anak bagi wanita ahlul-bait hasil dari perkahwinan dengan orang biasa”

Tetapi jika pendapat Mazhab Imam Ahmad bin Hanbal dan Mazhab Imam Syafie menjadi pegangan, bermakna tidak terputuslah nasabnya pada anak-anak tersebut. Maka tiada salah untuk ibu mereka menamakan anak-anak mereka dengan nama Syed dan Sharifah.

Hakikat ini perlu diketahui terutamanya dikalangan masyarakat Nusantara yang berpegang kepada Mazhab Imam Syafie.

Disclaimer

Wallahualam bisawab...semua yang dituliskan di blog ini berdasarkan kefahaman dari informasi yang sahih menurut ahli sunah waljamaah iaitu berpandukan al Quran dan hadis sahih,bukan dari andaian maupun dongengan semata-mata.

setiap kepercayaan adalah keimanan kepada agama Allah,...

apakah masih ada diantara kalian yang berani meniadakan kekuasaanNya serta berani mempertikaikan kebenaran serta kehendakNya?

saya mungkin tersilap ejaan atau penulisan cerita...sila betulkan...

mari kongsi ilmu yang sahih dan sejati ,
bukannya dengan marah dan iri hati.

terima kasih wahai saudara-saudari muslimku..